Dua Mahluk Berbulu di Rumah

Dua Mahluk Berbulu di Rumah

“A cat has absolute emotional honesty: human beings, for one reason or another, may hide their feelings, but a cat does not.” – Ernest Hemingway

Berkat bokap, rasa cinta gue akan binatang udah ada sejak kecil. Pas zaman bocah, bokap membiarkan gue punya peliharaan. Ada masanya rumah gue kayak kebun binatang karena punya anjing, burung, kelomang, dan ikan.

Kisah kasih gue dengan kucing dimulai saat tinggal dengan nyokap. Itu pun bukan kucing ras, tapi kucing kampung liar yang entah kenapa selalu datang ke rumah. Sebenarnya nyokap kurang suka kucing, tapi akhirnya menutup sebelah mata karena gak tega sama anak-anaknya (gue dan kakak) yang terhibur setiap rumah didatangi mahluk berbulu.

Ketika tinggal di Bogor pun mahluk berbulu ini tetap hadir dalam hidup gue. Gak tau ada apa, sering banget kucing liar datang ke kost. Ada beberapa ekor sempat jadi peliharaan gue. Saat ini ada 2 ekor yang jadi penghuni tetap kost, yaitu:

Si Bro
20150523_210541

Gue kasih nama kucing abu-abu ini si Bro biar kesannya akrab kalau disapa “Yo, wazzup Bro!” *iya, nyadar kok alasan gue payah banget* Rada lupa sejak kapan dia datang ke rumah. Kalau gak salah tahun 2014 deh.

Dulu si Bro ini manja. Sering duduk di pangkuan gue terus tidur. Kelakuannya manis-manis manja gitu deh, bikin gue seneng ngelus-ngelus dia. Makanan favoritnya ikan cuek dan salmon, kurang suka ikan asin. Entah kenapa dia jadi berubah sejak sempat hilang beberapa hari. Pas dia hilang gue sempet sedih sampai bikin e-poster kehilangan kucing. Gak jadi dipost karena dia keburu pulang. Tapi sekarang dia gak semanja dulu. Harus diangkat dulu baru mau duduk di pangkuan.

Meski jantan, si Bro ini rada penakut. Kalau ada kucing jantan masuk ke halaman, dia langsung ngumpet di dalam. Bahkan sampai memanjat di atas kulkas. Sekarang dia udah rada berani sih; kalau ada kucing asing masuk langsung dihadang. Cuma gara-gara itu doi banyak pitak bekas luka di badannya. :((

Si Bro ini kesayangan almarhum bapak kost. Saat masih hidup om selalu kasih sisa makanan ke dia. Yah, biarlah si Bro gak semanis dulu. Dia tetap kesayangan gue. Sekarang cerita tentang kucing gue yang namanya…

 

Maru
20160909_080012

Awalnya nasib dia kayak ratapan anak tiri deh. Gara-gara bapak-ibu kost gak mau ada kucing betina maka gue selalu galak ke dia. Kucing ini juga tau diri gitu. Dia selalu jaga jarak, hanya mendekat ketika ada makanan sisa. Itu juga pakai digalakin sama si Bro. Setelah 2-3 bulan gue jadi gak tega, akhirnya gue kasih dia nama “Maru” karena mukanya bulat.

Maru ini manja banget. Sering menempelkan badan ke kaki gue, selalu datang setiap dipanggil, ngeongnya centil, tapi setia banget.  Sekarang hampir setiap malam tidur di depan pintu kamar gue.

Sejujurnya gue senang sih dengan keberadaan 2 mahluk berbulu ini. Ketika lagi stress dan gak ada temen bicara, hanya dengan mengelus mereka bikin hati jadi lebih tenang. Gue belum ada rencana menikah dan (apalagi) punya anak dalam waktu dekat, keberadaan si Bro dan Maru membantu melampiaskan rasa keibuan gue.

Jadi, apa point dari entty blog ini? Gak ada, gue cuma pengen cerita aja sih. Hehe.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s